2025-11-15

Aprilia Kumala, Jangan Tertawakan Perjuangan NewJeans (뉴진스의 투쟁을 비웃지 마라)


🔗 Jangan Tertawakan Perjuangan NewJeans

Jangan Tertawakan Perjuangan NewJeans

Author: Aprilia Kumala

Nov 15, 2025

Pada hari debutnya, NewJeans menggebrak dunia K-pop. Kehadiran mereka lewat lagu “Attention” sukses mencuri attention tanpa ragu. Kalau umumnya grup K-Pop memberikan teaser atau perkenalan kecil-kecilan sebelum debut, Newjeans berbeda. Tanpa pemberitahuan apa pun, music video (MV) mereka rilis. Dengan lagu-lagu selanjutnya — Hype Boy, Cookie, Ditto, dan seterusnya — Newjeans kian dikenal dan dicintai.

Namun, di balik besarnya nama mereka, muncul sengketa panjang antara member dan agensi. Perselisihan pertama antara NewJeans dan ADOR (agensi di bawah HYBE Label) berawal dari perubahan manajemen. Seperti dikutip dari Reuters yang menulis “South Korea court blocks K-pop group NewJeans from leaving agency”, para member menyatakan rasa tidak percaya pada manajemen, khususnya setelah CEO Min Hee Jin diberhentikan.

ADOR mengajukan permohonan ke pengadilan untuk menegaskan kontrak ekslusif hingga 2029. Di sisi lain, para member bersikeras untuk “keluar” dan sempat mengumumkan nama grup mandiri mereka: NJZ. Hanni, salah satu member, bahkan menyampaikan pengalaman buruk yang dialaminya: Manajer salah satu grup di HYBE mengarahkan grup tersebut untuk mengabaikan dirinya.

Sayangnya, pengadilan menolak pembelaan NewJeans dan meminta mereka memenuhi kontrak — sebagaimana ditulis dalam artikel Pitchfork yang berjudul “NewJeans to Return to Label Following Legal Dispute”.

Isu “perbudakan” dalam kontrak grup K-pop sudah berlangsung sejak lama. Secara historis, Korea Selatan (Korsel) memperlakukan kontrak hiburan sebagai perjanjian perdata, bukan kontrak kerja. Pada 2010, sebagaimana dikutip dari Koreatimes.co, pemerintah bahkan secara resmi mengategorikan penghibur (termasuk idola) sebagai pengecualian terhadap klasifikasi ketenagakerjaan standar.

Kalahnya NewJeans dari persidangan mengundang banyak reaksi. Banyak pihak, baik Bunnies (penggemar NewJeans) ataupun masyarakat umum, menyayangkan keputusan pengadilan. Namun, tak sedikit orang menertawakan upaya NewJeans karena mereka “kalah dan balik lagi ke ADOR”.

Faktanya, keputusan pengadilan justru menggambarkan kegagalan solusi dari permasalahan para idola. UU ketenagakerjaan di Korsel tidak punya wadah untuk “menolong” idola. Padahal, kasus ini bukan yang pertama kali terjadi.

Saat artikel ini ditulis, hujatan untuk NewJeans memenuhi timeline media sosial. Perjuangan NewJeans yang dianggap mewakili kelas buruh kini ditertawakan. Padahal, apa yang NewJeans lakukan dapat menjadi pintu pembuka masa depan cerah bagi idola-idola lainnya.

Di tengah liarnya asumsi publik yang merendahkan, semestinya ada satu hal yang kita tanamkan dalam diri: Menertawakan perjuangan orang akan menghalangi empati dan suara korban lainnya. Idola-idola selain NewJeans mungkin ingin menuntut keadilan yang sama, tetapi memilih mundur karena takut. Padahal, ketimbang mengejek, kita bisa melakukan hal yang lebih bermakna: mengumpulkan data dan mendorong transparansi industri.

Lagi pula, bukankah kita kerap bilang, “Idols saved my life”? Lalu, kenapa kita tidak melakukan hal sebaliknya?